Tenun Fatumnasi sebagai Hasil budaya

Tenun Fatumnasi sebagai Hasil budaya

Chicago

Upacara penyambutan tamu di rumah adat milik Raja Mateos Anin dengan memberikan selendang bagi tamu menjadi interaksi pertama wisatawan yang berkunjung ke Fatumnasi. Raja yang menggunakan jas dari kain tenun khas mereka, menjadi media memperkenalkan tenun kepada para turis.


Berdasarkan Pemikiran J.J Honigman berkaitan idea, aktivitas, dan artefak, jika digunakan dalam menganalisis tenun di Fatumnasi kaki Gunung Mutis untuk mengetahui korelasi tenun dan peran raja, akan dipaparkan di bawah ini. Idea dalam konteks ini adalah konsep-konsep spiritual yang melandasi aktifitas tenun hingga pada motif-motif yang dibuatnya. Konsep spiritual dalam penggunaan tenun, misalnya tenun yang digunakan oleh raja terdapat motif-motif khusus. 


Aktivitas yang mengaitkan keberadaan raja dalam masyarakat fatumnasi bukan saja mengatur aktifitas keagamaan atau adat istiadat, Raja berperan dalam mengarahkan motif-motif dalam kain tenun. Raja memberikan pengetahuannya pada anak perempuannya. Anak perempuan raja yang berperan sebagai ketua pengrajin adalah penenun yang paling paham makna-makna dari motif tenun masyarakat Mollo di Fatumnasi. Aktivitas menenun sendiri dilakukan hanya oleh perempuan di Kawasan tersebut.


Perempuan melakukan kegiatan menenun setelah mereka membantu suami di kebun maupun menyelesaikan pekerjaan rumah lainnya. Secara aktivitas menenun seakan-akan pengisi waktu luang bagi perempuan, pada kenyataannya merupakan salah satu sumber perekonomian keluarga. Harga kain tenun mereka tergantung tingkat kerumitan. Untuk sehelai selendang berkisar Rp 150.000 – 250.000 bergantung dengan motif dan teknik yang digunakan. Teknik naisa dan teknik buna yang lebih rumit dapat membuat harga jual meningkat. Sehelai sarung bisa berkisar Rp 750.000 – 1.500.000, bergantung pula pada teknik dan kerumitan motif. Selimut yang berukuran lebih lebar, nilai jual dapat berkisar Rp 900.000 – 1.750.000. Walaupun terlihat mahal, sebenarnya penenun mengerjakannya dalam rentang waktu satu bulan hingga satu tahun. Menenun merupakan proses dari selembar benang menjadi selembar kain. Artinya nilai jual tersebut kadang terasa murah jika dibandingkan dengan usaha dan nilai estetis dari selembar hasil tenun perempuan di Fatumnasi.


Kain tenun sebagai artefak dikonstruksi oleh makna-makna filosofis (idea) yang terwujud dalam bentuk motif, warna, dan komposisi dalam sebuah kain tenun. Semua itu kemudian terwujud dengan kreativitas dan keterampilan menenun seorang penenun. 


Berdasarkan teori dari J.J. Honigman mempertegas keberadaan artefak dalam hal ini kain tenun sangat erat kaitannya dengan nilai filosofis dan struktur masyarakatnya. Peran raja dalam konteks ini sangat penting karena Raja yang memahami dan menentukan fungsi simbolik dan nilai filosofis kain tenun. Raja juga yang menciptkaan motif-motif utama. Terakhir Raja pula yang memperkenalkan tenun kepada wisatawan atau orang-orang yang datang ke Fatumnasi.



Leave a Reply