Dalam
tenun sebagai artefak budaya terlihat peran Raja yang sangat sentral menentukan
berbagai hal. Dalam sub bab ini focus pada aktivitas peran Raja dalam struktur
perekonomian di Fatumnasi. Berdasarkan teori Type of Aesthetic Event (The PAM Triangle) dari Van Maneen yang
mencakup Place, Audience, and Means dalam kegiatan estetik.

Gambar Type of Aesthetic Event (The PAM Triangle)
Sumber Maneen
Kegiatan estetik dalam konteks ini adalah Proses Raja menampilkan para penenun kepada wisatawan atau pendatang di Rumah Adat atau di ruang pertemuan. Jika mengacu pada Koordinat P Aesthetic Production yang dihasilkan terbagi dua yaitu kain tenun yang dihasikan oleh menenun dan performance atau pertunjukan tenun itu sendiri yang hadir di Rumah Adat. Hal yang menarik yang dihasilkan adalah bagaimana wisatawan dapat melihat, menyentuh, bahkan merasakan proses produksi tenun dan aktivitas menenun itu sendiri.
Koordinat A yaitu Audience dalam konteks ini adalah tamu-tamu atau wisatawan yang hadir di Rumah Adat tempat Raja menyambut dan melakukan upacara penyambutan. Para audiens telah memiliki ketertarikan atau Interest dengan mengunjungi Fatumnasi di Kaki Gunung Mutis. Para wisatawan dengan mudah tertarik pada aktivitas tradisional menenun yang dilakukan oleh perempuan penenun. Para audien inipun terpukau oleh proses menenun maupun pada nilai estetis yang ditawarkan oleh penenun. Walaupun tidak semua wisatawan memiliki kemampuan memahami nilai estetis tenun tadi, tetapi secara visual mereka terpukau pada proses dari selembar benang menjadi kain. Pengenalan makna dari kain tenun disampaikan oleh para penenun maupun oleh Raja.

Gambar Upacara Penyambutan Raja Memberikan Selendang
Wisatawan yang datang betul-betul beragam profesi maupun asal negara, tetapi mereka memiliki kesamaan yaitu adanya ketertarikan pada budaya tradisi. Kesamaan itu mempermudah Raja untuk menjelaskan dan mempromosikan kain tenun yang dibuat oleh perempuan penenun.
Koordinat M yaitu Means yang membedah fasilitas tempat, waktu kegiatan, support system untuk “pertunjukan menenun”. Raja sangat berperan untuk menghadirkan para penenun dalam Rumah adat. Raja meminta penenun untuk datang ke Rumah adat lengkap dengan peralatan tenun serta kain tenun yang sedang dalam proses pengerjaan.
Rumah adat yang melingkar masing-masing penenun memilih titik tempat mereka melakukan aktifitas menenun. Setiap penenun memilih jenis, motif, dan teknik yang beragam sehingga wisatawan akan tertarik untuk mencermati setiap proses yang berlangsung. Beberapa penenun yang sudah tua belum bisa berbahasa Indonesia. Peran Raja, penenun yang lebih muda, dan guide membantu menerjemahkan.
Pada proses penenun memperlihatkan kemahirannya ini, mereka menggunakan sarung tenun baru dan syal baru. Hasil tenun mereka kemudian menjadi daya tarik dari wisatawan. Beberapa wisatawan melakukan transaksi langsung dengan para penenun. Pada proses transaksi, Raja sama sekali tidak ikut campur. Raja Mateos Anin yang pandai berbahasa Indonesia serta ramah dan pandai melucu biasanya akan menggoda penenun yang berhasil memikat wisatawan untuk membeli hasil tenun mereka. Suasana yang akrab dan alamiah menjadi daya tarik dari “pertunjukan menenun” ini.
Fasilitas makanan tradisional, cemilan tradisional serta minuman hangat menjadi salah satu factor yang membuat wisatawan menikmati proses menenun tadi.
Melalui bagan PAM terlihat jika Raja berperan sebagai kurator dari semua aktivitas menenun di Kawasan Fatumnasi Kaki Gunung Mutis ini. Raja membuat pertunjukan tadi sehingga penenun dapat menjual hasil tenunannya tanpa memaksa pada wisatawan. Keinginan bertransaksi muncul dari bertambahnya pengetahuan wisatawan pada proses menenun maupun pemahaman wisatawan akan nilai estetis dari selembar kain tenun.
Gambar
Wisatawan yang Tertarik dengan Syal yang Dikenakan Penenun
Sumber: Peneliti